karomah sang kyai akn marzuqi

Karomah sang kyai akn marzuqi

PATI,

Muktamar dimulai saat hujan pun reda. Ini tentu berkat doa Kiai Nasihin pati. kata KH M Effendi saat menyampaikan pidato penutup.Kekeramatan pada hal-hal di luar akal mengenai kiai yang belum dikaruniai anak ini memang makin mengental saja. Setidak-tidaknya di sekitar Pati, Kudus, Jepara, dan Demak pembicaraan sebagian masyarakat awam tentang ulama tersebut dibumbui perihal yang berkaitan dengan kemampuan yang tak kasat mata. Bahkan, ada yang cukup vulgar dengan menyebut Kiai Nasihin memiliki jin.Kiai Maktub Effendi juga menceritakan kisahnya sehingga Mukmatar JATMI digelar di pondok asuhan Kiai Nasihin. Jauh sebelum mukmatar, di tengah kebingungannya, Maktub bersilaturahmi ke Nasihin yang antara lain pernah nyantri di almarhum KH Abdullah Salam, Kajen, Pati. Dia bertanya, Apa boleh Pondok AKN Marzuqi dipakai muktamar? Dengan senang hati KH.Nasihin membuka pintu lebar-lebar. Maktub pun mengembangkan pertanyaannya, apa kiai itu juga bersedia menanggung makanan dan minuman para muktamirin? ”Bersedia. Saya akan mintakan makanan dan minuman ke Allah,” sahut Kiai Nasihin Pati Marzuqi.

Penegasan bahwa uang untuk membeli seluruh makanan dan minuman itu diperoleh dari Allah disampaikan kiai kepada salah satu santrinya, Ir Walad H Aris Abdillah. ”Semuanya datang dari Allah,” jelas Kiai Nasihin pati kepada Walad yang pejabat di PT Telkom itu.Betul memang makanan dan minuman peserta muktamar dan tamu undangan yang mencapai ribuan orang terpenuhi semuanya. Ragam makanan pun banyak, lengkap, dan berkelas setara sajian di hotel berbintang lima. Ada masakan laut seperti cumi-cumi, kerapu, kakap, udang bago, sup asparagus, sup kambing, tumis jamur, serta buah-buahan mulai dari jeruk, apel, salak, lengkeng, anggur, dan pir. Belum termasuk makanan kecil.Semua jenis makanan tersebut disediakan secara prasmanan. ”Makanan yang disajikan kok seperti tiada habis-habisnya. Jumlah makanan yang terhidang di meja terlihat tetap utuh, walaupun terus diambil oleh ribuan orang,” kata Walad. Dia bersama sejumlah pejabat Telkom lainnya yang juga santri ”kelas jauh” Nasihin, ikut menjadi panitia lokal muktamar.Komentar senada disampaikan oleh para tamu dan santri yang tinggal di pondok. Sedangkan juru masak yang membantu penyelenggaraan muktamar tersebut juga mendapat pengalaman yang tidak mudah dicerna dengan logika. Mereka merasakan bisa memasak secara lebih cepat dari biasanya, karena antara lain bahan baku masakan datang dengan sendirinya dan lengkap.”Daging diambil terus untuk dimasak, kok tidak habis-habis,” tutur seorang juru masak, yang langganan membantu memasak bila pondok Kiai Nasihin sedang punya kerja. Dalam pengamatan para juru masak, bila daging serta bahan baku masih banyak itu pertanda acara masih berlangsung lama. Namun bila mulai berkurang berarti hajatan akan segera selesai.Penyajian makanan seperti saat Muktamar JATMI, menurut beberapa santri dan juru masak, bukan pemandangan kali pertama terjadi. Saat ribuan tamu datang untuk silaturahmi sepanjang bulan Syawal seusai shalat Idul Fitri, juga diberi minuman dan makanan.